25 Tahun GPMB, Perkuat Transformasi Gerakan Literasi Nasional Menuju Indonesia Emas 2045
Jakartq, – Memasuki usia ke-25 tahun, Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) menegaskan komitmennya untuk membawa gerakan literasi nasional ke arah yang lebih progresif, adaptif, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Literasi tidak lagi sekadar dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi harus menjadi kekuatan strategis dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM), mendorong inovasi, serta memperkuat daya saing bangsa.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan Seminar Nasional dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PP GPMB 2026 yang mengusung tema “25 Tahun GPMB: Refleksi Perjalanan, Konsolidasi Gerakan, dan Penguatan Literasi Indonesia”, bertempat di Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Pembudayaan Minat Baca (PP GPMB), Herlina Mustikasari, M.A., Ph.D., dalam sambutannya menegaskan bahwa tantangan gerakan literasi saat ini bukan hanya bagaimana meningkatkan kegemaran membaca masyarakat, melainkan bagaimana menjadikan literasi sebagai instrumen transformasi sosial, ekonomi, budaya, dan peradaban.
Menurut Herlina, gerakan literasi harus mampu melahirkan masyarakat yang tidak hanya memiliki kebiasaan membaca, tetapi juga cakap mengelola pengetahuan, berpikir kritis, mengambil keputusan secara tepat, menciptakan inovasi, serta meningkatkan kualitas kehidupannya.
“Keberhasilan gerakan literasi tidak cukup hanya diukur dari banyaknya buku yang dibaca, tetapi harus dilihat dari perubahan dan dampak nyata yang dihasilkan dalam kehidupan masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan Herlina.
Ia menambahkan, perjalanan 25 tahun merupakan momentum penting bagi GPMB untuk melakukan refleksi sekaligus pembenahan organisasi. Usia seperempat abad bukanlah jaminan bahwa organisasi telah menjadi kuat, melainkan menjadi kesempatan untuk terus belajar, beradaptasi, dan melakukan evaluasi secara kritis.
Sejumlah aspek yang perlu diperkuat antara lain tata kelola organisasi, dokumentasi pengetahuan, regenerasi kepemimpinan, peningkatan kapasitas pengurus daerah, serta pengambilan keputusan yang didasarkan pada data dan hasil riset.
Herlina juga menekankan bahwa penguatan literasi tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan keluarga, sekolah, perpustakaan, media, komunitas, dunia usaha, teknologi digital, hingga pemerintah.
Ia mengajak seluruh jajaran GPMB untuk melakukan perubahan orientasi gerakan, dari sekadar menjalankan program menjadi menghasilkan dampak, dari kegiatan menjadi perubahan, serta dari laporan administratif menuju transformasi sosial yang dapat dirasakan masyarakat.
Dengan demikian, GPMB diharapkan berkembang menjadi organisasi pembelajaran yang mampu melahirkan praktik-praktik baik, gagasan inovatif, serta rekomendasi kebijakan literasi berbasis bukti sebagai kontribusi nyata dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Perpusnas: Literasi Menjadi Fondasi Membangun SDM Unggul
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas RI, Dr. Adin Bondar Pasaribu, S.Sos., M.Si., memberikan apresiasi atas penyelenggaraan Seminar Nasional dan Rakornas PP GPMB 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang strategis untuk memperkuat konsolidasi gerakan, membangun sinergi, serta mempertemukan berbagai pemikiran dan pengalaman dalam mengembangkan budaya baca dan kecakapan literasi masyarakat Indonesia.
Adin menilai salah satu persoalan mendasar dalam pembangunan bangsa adalah masih adanya kemiskinan informasi dan pengetahuan. Padahal, kemampuan masyarakat dalam memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi menjadi pengetahuan merupakan modal penting untuk meningkatkan produktivitas, inovasi, adaptasi, dan kesejahteraan.
Ia menjelaskan bahwa kecakapan literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca, menulis, dan berbahasa. Lebih dari itu, literasi harus mencakup kemampuan memahami informasi, mengimplementasikan pengetahuan, melakukan evaluasi, hingga menciptakan gagasan dan solusi atas berbagai persoalan.
Tantangan tersebut semakin besar di tengah perkembangan teknologi digital, derasnya arus informasi, penyebaran berita bohong atau hoaks, fenomena post-truth, serta perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut Adin, masyarakat harus memiliki kemampuan memilah informasi, memverifikasi kebenaran, serta menggunakan teknologi secara bijak dan produktif. Penguatan budaya baca menjadi salah satu fondasi untuk membangun kemampuan berpikir kritis dan memecahkan persoalan kompleks.
Dalam mendukung penguatan ekosistem literasi nasional, Adin turut memaparkan sejumlah program dan inisiatif Perpusnas RI, di antaranya pembangunan 186 fasilitas perpustakaan di berbagai kawasan dan kota, renovasi 50 perpustakaan, dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik untuk 272 daerah, serta pengembangan ruang baca di 20 ribu perpustakaan desa dan rumah ibadah yang dilengkapi bahan bacaan bermutu.
Ia menegaskan bahwa pembangunan fasilitas harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas layanan, ketersediaan bahan bacaan, dan kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan sumber pengetahuan.
Karena itu, sinergi antara pemerintah, perpustakaan, komunitas literasi, lembaga pendidikan, dan organisasi seperti GPMB menjadi sangat penting untuk memperluas akses terhadap bacaan berkualitas sekaligus meningkatkan kecakapan literasi masyarakat hingga ke pelosok daerah.
25 Tahun Perjalanan GPMB, Saatnya Memperkuat Konsolidasi Gerakan
Sebagai informasi, Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) didirikan di Istana Bogor pada 25 Oktober 2001 atas inisiasi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bersama para pendidik, pegiat literasi, dan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap budaya baca.
GPMB hadir sebagai organisasi sosial kemasyarakatan independen yang berfokus pada penumbuhan dan pembudayaan minat baca serta peningkatan literasi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.
Kehadiran GPMB juga menjadi bagian dari perjalanan panjang penguatan budaya baca nasional yang berakar pada pencanangan Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan pada 1995.
Selama seperempat abad perjalanannya, GPMB telah menjadi bagian dari gerakan masyarakat dalam mendorong tumbuhnya kesadaran membaca dan memperluas partisipasi berbagai elemen bangsa dalam pengembangan literasi.
Memasuki babak baru, tantangan GPMB bukan hanya mempertahankan keberlangsungan organisasi, tetapi juga memperkuat konsolidasi hingga ke tingkat daerah, meningkatkan kapasitas para penggerak literasi, serta membangun kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan.
Melalui Seminar Nasional dan Rakornas PP GPMB 2026, momentum 25 tahun ini diharapkan mampu melahirkan rumusan strategis mengenai arah gerakan literasi Indonesia ke depan, termasuk penguatan kelembagaan, regenerasi kepemimpinan, inovasi program, dan pengembangan gerakan berbasis kebutuhan masyarakat.
Seperempat abad GPMB bukan sekadar perjalanan waktu, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen dan memperluas dampak gerakan literasi nasional. Dengan kolaborasi, konsistensi, dan inovasi, GPMB diharapkan semakin berperan sebagai penggerak masyarakat pembelajar dalam membangun SDM Indonesia yang unggul, kritis, kreatif, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
