Suku Alas Kecewa pada Peringatan HUT ke-52 Aceh Tenggara, Budaya Lokal Dinilai Kurang Mendapat Ruang

Date:

Suku Alas Kecewa pada Peringatan HUT ke-52 Aceh Tenggara, Budaya Lokal Dinilai Kurang Mendapat Ruang

Iji.red | Kutacane, Aceh Tenggara – Pelaksanaan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 Kabupaten Aceh Tenggara yang berlangsung di Stadion H. Syahadat, Kutacane, Selasa (23/6/2026), menuai sorotan dan kekecewaan dari sebagian masyarakat. Kekecewaan tersebut terutama datang dari kalangan Suku Alas yang merupakan suku mayoritas sekaligus identitas budaya utama Kabupaten Aceh Tenggara.

Kritik tersebut disampaikan Ketua Fraksi Selayakh, M. Rafi Sekedang, yang menilai perayaan hari jadi daerah seharusnya menjadi momentum untuk menampilkan dan mengangkat budaya lokal sebagai kebanggaan masyarakat Aceh Tenggara.

“Hari jadi Kabupaten Aceh Tenggara ke-52 merupakan momen yang sakral. Seharusnya perayaan ini menjadi panggung utama untuk menampilkan kekayaan budaya daerah sendiri,” ujar Rafi kepada wartawan, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, sejak acara dimulai sekitar pukul 16.30 WIB hingga seluruh rangkaian kegiatan berakhir, masyarakat lebih banyak disuguhi pertunjukan tarian dan busana adat dari luar Aceh Tenggara. Sementara budaya Alas yang selama ini melekat sebagai identitas daerah dinilai kurang mendapatkan porsi yang memadai dalam perayaan tersebut.

“Dari awal hingga akhir acara, masyarakat lebih banyak menyaksikan tarian dan pakaian adat dari luar daerah. Bahkan pakaian adat Alas hampir tidak terlihat dikenakan dalam rangkaian pertunjukan tersebut,” katanya.

Budaya Mayoritas Dinilai Tidak Menjadi Prioritas

Rafi menilai kondisi tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat terkait konsep dan arah penyelenggaraan acara yang disusun panitia pelaksana.

“Banyak masyarakat mempertanyakan, ada apa dengan panitia penyelenggara sehingga budaya Alas yang merupakan budaya mayoritas di Aceh Tenggara justru tidak mendapat porsi yang layak dalam perayaan hari jadi daerah sendiri,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kritik tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap keberagaman budaya yang hidup dan berkembang di Aceh Tenggara. Namun, menurutnya, budaya Alas tetap harus menjadi identitas utama yang ditampilkan dalam momentum resmi daerah.

“Masyarakat tidak mempermasalahkan hadirnya keberagaman budaya dalam perayaan HUT Aceh Tenggara. Namun menjadi pertanyaan besar ketika pada momentum hari jadi daerah sendiri, budaya Alas sebagai identitas mayoritas justru nyaris tidak terlihat. Jika bukan pada perayaan hari lahir Aceh Tenggara, lalu pada momentum apa lagi budaya Alas diberikan ruang utama untuk tampil di rumahnya sendiri?” tegasnya.

Masyarakat Harapkan Penampilan Budaya Khas Alas

Lebih lanjut, Rafi mengungkapkan bahwa banyak masyarakat yang hadir berharap dapat menyaksikan berbagai penampilan budaya khas Alas, seperti Tari Landok Alun maupun parade busana adat Alas yang selama ini menjadi simbol kebanggaan masyarakat setempat. Namun harapan tersebut dinilai belum terwujud dalam peringatan HUT ke-52 Aceh Tenggara tahun ini.

Ia juga mempertanyakan sejauh mana keterlibatan tokoh adat dan pegiat budaya Alas dalam penyusunan konsep acara.

“Apakah panitia melibatkan tokoh adat Alas dalam penyusunan acara? Atau jangan-jangan kita mulai lupa bahwa Aceh Tenggara lahir, tumbuh, dan berkembang dengan identitas budaya Alas yang kuat?” katanya.

Menurutnya, peringatan hari jadi daerah tidak semata-mata menjadi seremoni tahunan, tetapi juga harus menjadi sarana memperkuat identitas, sejarah, serta kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya yang dimiliki.

“Perayaan HUT ke-52 Aceh Tenggara seharusnya menjadi panggung kebanggaan budaya Alas. Namun yang dirasakan sebagian masyarakat justru sebaliknya, seolah-olah budaya lokal menjadi tamu di daerahnya sendiri,” ungkap Rafi.

Harapan untuk Pemerintah Daerah

Rafi berharap ke depan Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara bersama panitia pelaksana dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi budaya lokal dalam setiap kegiatan resmi daerah. Hal tersebut dinilai penting untuk menjaga identitas daerah sekaligus menumbuhkan rasa bangga generasi muda terhadap warisan budaya leluhur.

“Budaya lokal harus menjadi prioritas dalam setiap agenda resmi daerah. Dengan demikian, generasi muda tidak kehilangan jati diri dan tetap memiliki kebanggaan terhadap budaya Alas sebagai warisan nenek moyang,” ujarnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan resmi dari panitia pelaksana maupun Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara terkait kritik yang disampaikan sejumlah elemen masyarakat tersebut. Sesuai prinsip keberimbangan dan Kode Etik Jurnalistik, media tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak terkait.

Narasumber: Syah Putra

Bagikan Artikel

Langganan

Popular

Lebih banyak seperti ini
Related

Kodim 0213/Nias Rampungkan Pembangunan Jembatan Modular di Nias Selatan

Iji.red Nias — Kodim 0213/Nias berhasil menyelesaikan pembangunan Jembatan...

Pelindo Regional 1 Gelar Pengajian, Doa Bersama, dan Santunan Anak Yatim Piatu

Perkuat Nilai Kepedulian dan Keselamatan, Pelindo Regional 1 Gelar...

Prof. Sutan Nasomal Yakin Polres Bogor Tegakkan Hukum Tanpa Tebang Pilih

Prof. Sutan Nasomal Yakin Polres Bogor Tegakkan Hukum Tanpa...

Jaga Urat Nadi Kehidupan, PTBA Pertegas Komitmen Kelestarian Sungai dalam Konferensi Sungai Indonesia 2026

  Mojokerto, 28 Juli 2026 — PT Bukit Asam (Persero)...