Lumban Suhi Suhi Toruan, iji.red – Di Antara Napas, Ada Pilihan Hidup
Hari ini saya terkejut sekaligus berduka ketika mendengar kabar bahwa seorang teman kuliah telah berpulang.
Rasanya sulit dipercaya.
Baru satu atau dua minggu yang lalu, ia masih bercanda di grup. Seperti biasanya, ia melontarkan humor yang membuat banyak orang tersenyum. Ia memang dikenal sebagai pribadi yang ceria, seorang pemusik, penyanyi, dan sahabat yang senang menghadirkan sukacita.
Tak seorang pun menyangka bahwa sakit akan membawanya pergi begitu cepat.
Kabar itu membuat saya terdiam.
Betapa tipis batas antara hidup dan kematian.
Hari ini kita masih bernapas, berbicara, tertawa, membuat rencana. Esok, semua itu bisa berubah dalam sekejap.
Mungkin, secara sederhana, perbedaan antara hidup dan mati hanyalah satu tarikan napas.
Namun, di antara napas pertama hingga napas terakhir, terbentang sebuah perjalanan yang penuh dengan pilihan-pilihan hidup.
Pilihan untuk mengasihi atau membenci.
Pilihan untuk memaafkan atau menyimpan luka.
Pilihan untuk melayani atau hanya memikirkan diri sendiri.
Pilihan untuk menjadi alasan seseorang tersenyum atau justru terluka.
Saya juga semakin menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh kisah hidup seseorang.
Kita melihat tindakannya, tetapi tidak selalu memahami pergumulannya.
Kita melihat hasilnya, tetapi tidak mengetahui luka, perjuangan, dan doa yang mengiringinya.
Karena itu, saya belajar untuk tidak mudah menghakimi.
Yang jauh lebih penting adalah bertanya kepada diri sendiri:
“Jika suatu hari Tuhan memanggilku pulang, kisah seperti apa yang akan kutinggalkan?”
Semoga ketika perjalanan ini berakhir, hidup kita dikenang bukan karena kesempurnaannya, tetapi karena kasih, kebaikan, dan makna yang telah kita bagikan bagi sesama.
Kesadaran bahwa hidup memiliki batas sering disebut dalam psikologi sebagai mortality awareness. Meskipun terdengar berat, kesadaran ini justru dapat membuat seseorang menjalani hidup dengan lebih penuh makna.
Orang yang menyadari bahwa waktu hidup terbatas cenderung lebih menghargai hubungan, lebih mudah memaafkan, lebih selektif dalam menentukan prioritas, dan lebih terdorong melakukan hal-hal yang bernilai.
Kesadaran akan kefanaan bukan untuk membuat kita takut, tetapi untuk mengingatkan bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk memilih hidup dengan lebih bijaksana.
Dr drh Rotua Wendeilyna Simarmata MSi (CMed CPP CIJ CPW) mengajak para pembaca media online ini untuk merenungkan ; Jika hari ini adalah satu hari yang sangat berharga dalam hidup Anda, apa satu pilihan yang ingin Anda ambil?
1. Mungkin menghubungi seseorang yang lama tidak disapa.
2. Memaafkan.
3. Mengucapkan terima kasih.
Atau 4. melakukan satu kebaikan yang selama ini tertunda.
Jangan menunggu waktu yang “tepat”. Hari ini adalah anugerah yang sedang kita miliki.
“Yang membuat hidup bermakna bukanlah panjangnya usia, tetapi pilihan-pilihan kasih yang kita tinggalkan di antara napas pertama dan napas terakhir.”
Setiap langkah membawa kita semakin mampu menyalakan harapan, menumbuhkan makna, dan menjalani hidup dengan bijaksana (Sumber : Just Believe — Ani Fegda. Esensi)