IJI.red, JAKARTA | – Pelaksanaan Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) menjadi sorotan tajam. Hingga Rabu (24/6/2026), tercatat ada tiga peserta meninggal dunia, salah satunya saat mengikuti pelatihan di Jakarta. Ketiganya ditempatkan di lokasi berbeda dan sempat mendapatkan penanganan medis sebelum dinyatakan meninggal.
Kementerian Pertahanan menyatakan seluruh peserta telah lolos seleksi kesehatan sebelum mengikuti program. Namun menyusul peristiwa ini, pemerintah dan penyelenggara segera melakukan evaluasi serta memperketat pengawasan kesehatan selama pelatihan berlangsung.
Berikut rincian masing-masing kasus:
Novia Rahmadhani Sihotang
Mengikuti Latsarmil di Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Jakarta. Kesehatannya menurun pada 22 Juni 2026, sempat ditangani tenaga medis setempat lalu dirujuk ke RSAU dr Esnawan Antariksa. Meninggal dunia sehari kemudian, dengan keterangan medis penyebabnya berkaitan dengan penyakit Tuberkulosis (TB).
Yonanda Muhammad Taufid
Mengikuti pelatihan di Puslatpur Kodiklatad, Baturaja, Sumatera Selatan. Kondisinya menurun drastis pada 17 Juni 2026, mendapatkan pertolongan awal lalu dibawa ke rumah sakit. Dinyatakan meninggal akibat henti jantung.
Anisa Muyassaroh
Mengikuti Latsarmil di Dodikjur Rindam VI Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Mengalami gangguan kesehatan pada 18 Juni 2026, dirujuk ke fasilitas kesehatan setelah ditangani di tempat. Penyebab kematiannya adalah heat stroke atau kenaikan suhu tubuh ekstrem yang berakibat fatal.
Menanggapi kasus ini, anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta evaluasi mendalam terhadap materi pelatihan. Ia menilai latihan kemiliteran yang terlalu berat tidak sesuai dengan latar belakang peserta yang berasal dari kalangan sipil.
“Materinya perlu disesuaikan. Jangan terlalu banyak fisik berat, lebih baik diperbanyak pelatihan manajemen koperasi yang memang menjadi tujuan utama mereka,” tegasnya.
Penyelenggara menegaskan keselamatan peserta menjadi prioritas. Evaluasi dilakukan guna memastikan program tetap berjalan namun tidak membahayakan kesehatan dan keselamatan para calon pengelola koperasi.
(IQbal 049)