IJI Red. MAMASA : Dana segar Rp6,3 miliar milik rakyat Mamasa disinyalir menguap di balik aspal bobrok. Tak terima uang negara dimakan bancakan, Gerakan Pemuda Mahasiswa (GPM) Mamasa nekat ‘menggeruduk‘ Polda Sulawesi Barat. Mereka menuntut penegak hukum membongkar dugaan mega skandal korupsi proyek pembangunan jalan poros Uhailanu–Ralleanak Tahun Anggaran 2023.
Aksi yang berlangsung panas ini menjadi puncak kekecewaan publik Mamasa terhadap infrastruktur ‘asal jadi‘ yang dinilai hanya menguntungkan segelintir kontraktor dan pejabat nakal. Mahasiswa mencium aroma amis penyimpangan spesifikasi teknis yang berpotensi kuat membobol keuangan negara.
“Anggaran Rp6,3 miliar itu bukan angka kecil! Itu darah dan keringat rakyat yang wajib dikembalikan dalam bentuk jalan berkualitas. Jika ada yang bermain-main dan makan uang rakyat, mereka harus diseret ke penjara!” tegas Koordinator Lapangan GPM Mamasa, Mondi, di tengah kepungan barisan mahasiswa.
Dalam gertakannya, GPM Mamasa menyodorkan tiga tuntutan mati kepada Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulbar agar tidak melempem dan ‘masuk angin‘:
- Urak Penyelidikan Sampai Akar: Mendesak Ditreskrimsus Polda Sulbar mengusut tuntas dugaan penyimpangan proyek Uhailanu–Ralleanak secara profesional, transparan, dan tanpa kompromi.
- Jerat Seluruh Komplotan: Meminta polisi tak ragu menetapkan status tersangka kepada siapa pun yang terlibat—mulai dari penyedia jasa (kontraktor), Pejabat Pelaksana Kegiatan, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), hingga aktor pembuat kebijakan.
- Sapu Bersih Tanpa Tebang Pilih: Menegaskan agar hukum tidak tumpul ke atas, guna memberikan kepastian hukum dan efek jera atas pembancakan APBD/APBN.
GPM Mamasa menegaskan bahwa proyek konstruksi wajib tunduk pada UU No. 31/1999 jo. UU No. 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi serta UU No. 2/2017 tentang Jasa Konstruksi. Setiap ketidaksesuaian standar teknis yang merugikan negara adalah kejahatan serius, bukan sekadar kelalaian administrasi.
Meski sempat tertahan dan belum berhasil melangsungkan audiensi langsung dengan jajaran Ditreskrimsus Polda Sulbar, gelombang perlawanan mahasiswa dipastikan tidak akan surut. Kekecewaan tersebut justru menjadi bahan bakar baru untuk aksi yang lebih besar.
Mondi menegaskan, kepungan pertama ini barulah pembuka dari “perang” panjang melawan dugaan korupsi di Kabupaten Mamasa.
“Perjuangan ini tidak berhenti hari ini. Aksi akan terus berlanjut secara berjilid-jilid sampai ada kepala yang bertanggung jawab dan mengenakan rompi oranye!” pungkas Mondi dengan nada mengancam. (ZUL)