IJI Red MAMASA : Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mamasa berubah menjadi petaka mengerikan. Sebanyak 14 siswa SMP Negeri 1 Tabulahan tumbang dan dilarikan ke puskesmas usai menyantap sajian MBG yang didistribusikan pihak sekolah pada Senin (28/9/2026). Insiden tragis ini memicu amarah publik hingga Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamasa mendesak agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tabulahan segera ditutup total!
Malapetaka ini bermula sekitar pukul 10.30 WITA saat ompreng MBG dibagikan kepada seluruh siswa dan jajaran pengajar. Namun, kecurigaan menyeruak ketika seorang staf guru mendapati lauk daging ayam yang diterimanya menebarkan aroma tidak sedap dan diduga kuat sudah basi.
Mendengar laporan mengejutkan tersebut, Guru Kesiswaan SMPN 1 Tabulahan, Hikmah, langsung mengecek porsi miliknya sendiri.
“Setelah salah satu staf guru melapor kalau bagian daging ayamnya basi, saya ambil bagian saya dan ternyata daging ayamnya juga sudah tidak layak konsumsi,” ungkap Hikmah dengan nada prihatin.
Pihak sekolah bergerak cepat melaporkan temuan haram ini ke SPPG Tabulahan yang kemudian mendatangi lokasi untuk memeriksa sampel ayam bermasalah. Namun, nasi sudah menjadi bubur, sebagian besar siswa ternyata telah terlanjur menelan makanan tersebut.
Kepanikan pecah sekitar pukul 11.30 WITA pada jam pelajaran terakhir. Saat Hikmah menyisir kelas dan mendata kondisi anak didiknya, jeritan keluhan mulai bermunculan satu per satu. Para siswa meringis kesakitan akibat serangan mual hebat, pusing, sakit perut melilit, hingga sesak napas.
Tanpa buang waktu, sekolah menghubungi Puskesmas Tabulahan. Tim medis bergerak cepat menerjunkan armada armada penjemputan untuk mengevakuasi para korban sekitar pukul 12.00 WITA.
Dari 14 korban yang terdiri dari 2 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan tersebut, 6 siswa telah diperbolehkan pulang. Namun, 8 siswa lainnya masih terbaring lemas menjalani perawatan intensif di Puskesmas Tabulahan. Nasib lebih kritis dialami satu siswa yang terpaksa dipersiapkan untuk dirujuk ke rumah sakit akibat komplikasi penyakit bawaan.
Skandal ini langsung meledakkan amarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamasa. Fungsionaris HMI Cabang Mamasa, Adi Putra, mengecam keras kelalaian fatal yang membahayakan nyawa generasi muda tersebut.
Adi menegaskan bahwa nyawa siswa tidak bisa ditukar dengan sekadar klarifikasi manis di media. HMI mendesak operasional SPPG Tabulahan dihentikan total dan menuntut pertanggungjawaban penuh atas seluruh biaya pengobatan para korban.
“Kami mengecam keras kejadian ini! Ini adalah bentuk kegagalan dan kelalaian pengelola SPPG Tabulahan yang harus dipertanggungjawabkan,” tegas Adi Putra dengan nada berang. “Jangan hanya memberikan klarifikasi. Keselamatan siswa harus menjadi prioritas. Kami meminta SPPG Tabulahan ditutup sementara sampai seluruh proses pemeriksaan dan evaluasi selesai!”
HMI menuntut investigasi pembongkaran secara menyeluruh, mulai dari rantai pengadaan bahan mentah, proses pengolahan, cara penyimpanan, hingga jalur distribusi MBG ke sekolah-sekolah. Mereka juga mendesak agar hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan basi tersebut dibuka secara transparan kepada publik tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti keracunan massal ini masih menantikan hasil uji klinis dan pemeriksaan laboratorium resmi dari pihak berwenang. (ZUL)