IJI Red. JAKARTA : Sikap dingin dan aksi bungkam petinggi Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Barat terhadap gelombang demonstrasi mahasiswa kini berbuntut panjang. Tak main-main, desakan agar Kapolda Sulbar melepaskan jabatannya menggelegar ke publik.
Sorotan tajam datang langsung dari Ketua Umum BPI KPNPA RI, Rahmad Sukendar. Dengan nada keras, ia menilai kepemimpinan Kapolda Sulbar telah gagal total dalam menjaga komitmen kehumasan dan pelayanan publik setelah secara terang-terangan “alergi” berdialog dengan Aliansi Mahasiswa dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Pasangkayu (IPMA Pasangkayu).
“Kapolda Sulbar ini orang nomor satu di sana, seharusnya peka! Ketika mahasiswa datang membawa aspirasi secara damai, tapi tak satu pun pejabat sudi menemui apalagi berdialog, ini bukti nyata lemahnya kepemimpinan dan minimnya komitmen terhadap rakyat,” cecar Rahmad dengan nada menohok, Rabu (29/7/2026).
Rahmad menegaskan, sikap eksklusif dan seolah “kebal kritik” yang ditunjukkan jenderal bintang dua tersebut sangat berbahaya bagi citra Korps Bhayangkara. Ia bahkan secara terbuka meminta Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo dan Divisi Propam Polri turun tangan membersihkan persoalan ini.
“Jika memang tidak mampu membangun komunikasi dan menyelesaikan persoalan publik, sudah sepatutnya Kapolda Sulawesi Barat MUNDUR sebagai bentuk pertanggungjawaban moral! Kapolri dan Propam harus turun ke Sulbar. Jangan sampai publik mencium bau busuk adanya upaya menutup-nutupi persoalan internal di Polres Pasangkayu,” tegasnya memanaskan suasana.
Di sisi lain, perlawanan mahasiswa dipastikan belum usai dan justru kian membara. Ketua IPMA Pasangkayu, Ariwidarto, mendeklarasikan Mosi Tidak Percaya secara terbuka kepada Kapolda Sulbar beserta jajarannya.
Aksi lempar handuk kepolisian saat unjuk rasa membara di depan Mapolda Sulbar pada Senin (27/7/2026) lalu menjadi pemantik utama amarah mahasiswa. Langkah ini diambil lantaran dugaan skandal pelanggaran kode etik yang melibatkan pimpinan tertinggi di Polres Pasangkayu hingga kini terkesan digantung dan ditutup-tutupi tanpa kejelasan hukum.
“Kami tidak akan diam! Kami nyatakan mosi tidak percaya pada Kapolda Sulbar. Aspirasi kami dibuang begitu saja tanpa pernah diterima secara langsung,” cetus Ariwidarto dengan berapi-api.
Ariwidarto menegaskan bahwa konsolidasi besar-besaran tengah digalang. Mahasiswa siap menerjunkan gelombang massa yang jauh lebih besar dalam aksi berjilid-jilid hingga ruang dialog dibuka lebar dan skandal kode etik di Polres Pasangkayu dibongkar secara transparan ke publik.
Bola panas kini berada di tangan Markas Besar Polri. Akankah Kapolda Sulbar bertahan di tengah kepungan mosi tidak percaya, ataukah Kapolri bakal mengambil tindakan tegas? Kita tunggu manuver selanjutnya. (ZUL)