Bukan Sekadar Salaman, Apa Makna Gestur Bupati Samosir Membungkuk di Hadapan Pejabat yang Lebih Tua?

Date:

Samosir, iji.red – Ada sebuah gestur yang beberapa kali terlihat dalam foto-foto kegiatan Bupati Samosir Vandiko Gultom ketika bertemu atau bersalaman dengan pejabat yang lebih tua atau memiliki posisi lebih tinggi.
Tangannya menjabat tangan lawan bicara. Namun tubuhnya sedikit membungkuk dan kepalanya menunduk.
Bagi sebagian orang, gerakan tersebut mungkin terlihat sederhana. Hanya sebuah cara bersalaman.
Tetapi dalam budaya masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat yang masih kuat memegang tata krama terhadap orang yang lebih tua, bahasa tubuh seperti itu mempunyai pesan sosial yang cukup kuat: hormat, rendah hati dan tahu menempatkan diri.
Bukan berarti merendahkan diri
Membungkukkan badan dalam konteks seperti ini tidak otomatis berarti seseorang sedang merendahkan martabat dirinya.
Justru sebaliknya.
Dalam etika pergaulan masyarakat Indonesia, posisi tubuh sering digunakan untuk menunjukkan penghormatan. Orang yang lebih muda biasanya memberikan ruang penghormatan kepada orang yang lebih tua, guru, orang yang dituakan atau seseorang yang secara sosial memiliki posisi tertentu.
Tradisi salam, misalnya, merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan kepada orang yang lebih tua sebagai tanda hormat. Literatur etika yang diterbitkan pemerintah juga mencatat praktik menyentuhkan bagian belakang tangan orang yang lebih tua ke dahi atau hidung sebagai bentuk penghormatan.

Karena itu, ketika seseorang bersalaman sambil sedikit membungkukkan badan dan menundukkan kepala, pesan yang terbaca secara sosial adalah:
“Saya menghormati Anda.”
Kalau dalam perspektif Batak Toba?
Di sinilah gestur tersebut menjadi menarik jika dilihat dari budaya Samosir dan Batak Toba.
Dalam filosofi Dalihan Na Tolu, dikenal prinsip:
Somba marhula-hula, elek marboru, manat mardongan tubu.
Somba marhula-hula mengandung makna penghormatan kepada hula-hula. Sejumlah sumber tentang budaya Batak Toba menjelaskan bahwa somba dalam konteks tersebut berarti menghormati, bukan menyembah.

Bahkan dalam kajian tentang falsafah masyarakat Batak Toba, somba dikaitkan dengan penghormatan kepada hula-hula sebagai bagian penting dari struktur hubungan kekerabatan Dalihan Na Tolu.

Karena itu, secara nilai budaya, gestur merendahkan tubuh ketika berhadapan dengan orang yang dituakan dapat dibaca sebagai ekspresi marsomba atau sikap hormat—tetapi jangan buru-buru menyatakan bahwa setiap orang yang membungkuk saat bersalaman sedang melakukan ritual adat marsomba.
Itu dua hal yang berbeda.
Gestur tubuh berbicara tanpa kata
Menariknya, dalam foto tersebut tidak ada pidato panjang.
Tidak ada tulisan yang menjelaskan maksud gestur itu.
Tetapi tubuh berbicara.
Tangan yang dijabat menunjukkan hubungan dan penghormatan.
Tubuh yang membungkuk menunjukkan kerendahan hati.
Kepala yang menunduk menunjukkan sikap hormat.
Dalam komunikasi nonverbal, ketiga unsur tersebut membentuk sebuah pesan yang mudah dipahami masyarakat Indonesia: menghormati orang yang dituakan.
Karena itu, foto seperti ini sebenarnya bukan hanya dokumentasi seremoni pemerintahan.
Ia juga dapat menjadi gambaran mengenai cara seorang pejabat publik menampilkan dirinya ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua.
Apakah itu “sungkem”?
Tidak tepat jika langsung disebut sungkem.
Sungkem memiliki bentuk yang lebih spesifik, terutama dalam tradisi Jawa dan Sunda, ketika seseorang membungkuk secara mendalam di hadapan orang tua atau orang yang dihormati, biasanya sambil memegang atau mencium tangan.
Sementara dalam foto yang ditampilkan ini Bupati Samosir  Vandiko Gultom menyakam tangan Wagub Sumut Surya,  dengan tubuh dan kepala sedikit menunduk.
Jadi istilah yang lebih aman adalah:
“gestur penghormatan”,
“sikap takzim”, atau
“etika merendahkan tubuh kepada orang yang dituakan.”
Kalau ingin memakai perspektif Batak Toba, bisa dikaitkan dengan nilai somba, tetapi bukan disebut sebagai pelaksanaan ritual adat.
Ketika jabatan tidak menghilangkan tata krama
Justru di sinilah foto tersebut menarik.
Seorang kepala daerah mempunyai jabatan dan kewenangan pemerintahan. Tetapi ketika berhadapan dengan seseorang yang lebih tua atau yang ingin dihormatinya, jabatan tersebut tidak harus ditunjukkan melalui tubuh yang tegak dan kaku.
Sebaliknya, sedikit merendahkan tubuh dapat menjadi bahasa kerendahan hati.
Pesannya sederhana:
Semakin tinggi jabatan seseorang, bukan berarti semakin tinggi pula tubuhnya harus ditempatkan di hadapan orang lain.
Dalam budaya Indonesia, seseorang bisa saja mempunyai jabatan tinggi tetapi tetap menunjukkan penghormatan kepada orang yang lebih tua.
Dan bagi masyarakat Batak, nilai seperti ini mempunyai resonansi kuat dengan prinsip menghormati posisi seseorang dalam relasi sosial dan kekerabatan.
Tetapi ada batasnya
Gestur membungkuk juga tidak boleh dilepaskan dari konteks.
Ada perbedaan antara membungkuk sebagai sopan santun dengan membungkuk secara berlebihan hingga menyerupai penyembahan atau rukuk.
Dalam konteks keagamaan Islam sendiri terdapat perbedaan pandangan mengenai membungkuk ketika bersalaman. MUI Jawa Timur, misalnya, membahas persoalan menundukkan kepala sebagai tradisi ta’dzim dan menekankan bahwa persoalannya harus dibedakan dari gerakan yang menyerupai rukuk atau sujud.

Artinya, secara sosial gestur tersebut dapat dipahami sebagai penghormatan, tetapi makna agama, adat dan budaya tidak boleh dicampuradukkan begitu saja.
Sebuah foto, sebuah pesan budaya
Pada akhirnya, foto Bupati Samosir Vandiko Gultom bersalaman sambil membungkukkan badan dan menundukkan kepala dapat dibaca lebih luas daripada sekadar dokumentasi pertemuan.
Ia memperlihatkan bagaimana bahasa tubuh menjadi bagian dari etika kepemimpinan.
Dalam masyarakat yang masih menjunjung tinggi penghormatan kepada orang tua dan orang yang dituakan, gestur sederhana seperti menundukkan kepala dapat menyampaikan pesan yang sangat jelas:
“Saya menghormati Anda.”
Dan dalam perspektif Batak Toba, sikap menghormati orang yang memiliki kedudukan tertentu dalam relasi sosial maupun kekerabatan merupakan nilai yang tidak asing dalam falsafah Dalihan Na Tolu.
Salamnya mungkin hanya beberapa detik. Tetapi bahasa tubuhnya menyampaikan pesan yang jauh lebih panjang: jabatan boleh tinggi, tetapi tata krama jangan ditinggalkan (red)

Bagikan Artikel

Langganan

Popular

Lebih banyak seperti ini
Related

Polsek Pamulang Telusuri Kasus Pembegalan Pengemudi Grab dan Mobil yang Dibawa Kabur

iji.red Pamulang, 8 Oktober 2026 - Polsek Pamulang menindaklanjuti laporan...

Yayasan Tarombo Dalihan Natolu Soroti Dugaan Kekerasan Yang Dialami Romanto Nadeak

Pangururan, iji.red - Dugaan kekerasan terhadap Romanto Nadeak (31),...

Empat Tersangka Kasus KM Virgo Ditahan, Termasuk Tiga Pihak Perusahaan

Jakarta – Polri terus melakukan penyidikan terkait kecelakaan KM...

Aksi Penyambutan Kapolda Sulbar Berujung Ricuh, Kader PMII Diduga Dipukul Oknum Polisi

IJI Red MAMUJU : Aksi penyambutan Kapolda Sulawesi Barat...