Ketika Sepasang Sepatu Menjadi Cermin Peradaban: Mendidik Hati di Tengah Krisis Karakter Bangsa

Date:

Ketika Sepasang Sepatu Menjadi Cermin Peradaban: Mendidik Hati di Tengah Krisis Karakter Bangsa

Oleh: Selamet Untung Suropati, S.Pd.I.

( Kader Muhammadiyah Kota Medan | Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP Muhammadiyah 7 Medan | Seniman Nasyid Sumatera Utara | Kepala Pusat Data dan Informasi Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara) 

Medan ( IJI.Red ) – Di tengah kemajuan teknologi yang melesat begitu cepat, ada satu pertanyaan mendasar yang patut kita renungkan bersama: apakah pendidikan kita masih berhasil mendidik hati, atau hanya sibuk memenuhi kepala dengan pengetahuan?

Indonesia sedang memasuki era transformasi digital yang luar biasa. Artificial Intelligence (AI), media sosial, dan banjir informasi telah mengubah cara anak-anak belajar, berkomunikasi, bahkan memandang kehidupan. Namun di balik kemajuan tersebut, kita menyaksikan fenomena yang mengkhawatirkan. Kasus perundungan di sekolah meningkat, ujaran kebencian menjadi konsumsi harian di ruang digital, budaya instan semakin mengikis semangat berjuang, sementara empati perlahan memudar.

Ironisnya, semua itu terjadi ketika akses terhadap pendidikan semakin luas. Persoalannya bukan lagi pada kurangnya ilmu pengetahuan, melainkan berkurangnya nilai-nilai kemanusiaan.

Di sinilah saya menemukan makna mendalam dari film Children of Heaven karya Majid Majidi. Film yang hanya bercerita tentang hilangnya sepasang sepatu ini sesungguhnya sedang berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar: krisis nilai dalam kehidupan manusia.

Film ini mengajarkan bahwa kemiskinan bukanlah musuh utama manusia. Yang lebih berbahaya adalah ketika seseorang kehilangan rasa syukur, kejujuran, kasih sayang, dan kepedulian kepada sesama.

Ali dan Zahra hidup dalam keterbatasan. Mereka tidak memiliki fasilitas mewah. Tidak ada telepon pintar terbaru. Tidak ada pakaian bermerek. Bahkan mereka harus bergantian memakai satu pasang sepatu untuk tetap bisa bersekolah. Namun justru dari keterbatasan itulah lahir karakter yang luar biasa.

Mereka tidak saling menyalahkan.

Mereka tidak mengeluh kepada keadaan.

Mereka tidak memilih jalan pintas.

Mereka berjuang.

Dalam dunia pendidikan modern, kita sering berbicara tentang kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), bahkan kecerdasan buatan (AI). Namun film ini mengingatkan bahwa terdapat kecerdasan yang jauh lebih penting, yakni kecerdasan moral.

Karakter tidak lahir dari ceramah panjang. Karakter dibentuk melalui pengalaman, keteladanan, dan perjuangan hidup.

Allah Swt. telah mengingatkan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini bukan sekadar motivasi, tetapi merupakan filosofi pendidikan. Perubahan selalu dimulai dari kesadaran diri. Tidak ada karakter yang tumbuh secara instan.

Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan sekadar ta’lim (transfer ilmu), tetapi juga tarbiyah (proses pembinaan) dan ta’dib (pembentukan adab). Inilah yang menjadi ruh pendidikan Muhammadiyah sejak didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan.

Muhammadiyah meyakini bahwa ilmu tanpa akhlak hanya akan melahirkan manusia yang pintar tetapi kehilangan arah. Sebaliknya, akhlak yang dibangun di atas ilmu akan melahirkan manusia yang mampu membawa kemajuan bagi peradaban.

Karena itulah Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa misi utama pendidikan Islam bukan hanya mencerdaskan akal, melainkan memuliakan akhlak.

Pesan inilah yang begitu kuat terasa dalam Children of Heaven.

Ali tidak mengikuti lomba lari demi mengejar ketenaran. Ia hanya ingin menghadiahkan sepatu bagi adiknya. Sebuah tujuan yang sederhana, tetapi sarat makna. Dalam dunia yang semakin individualistis, pengorbanan seperti ini menjadi pelajaran yang sangat mahal.

Lebih jauh lagi, film ini menyadarkan kita tentang makna kebahagiaan. Hari ini banyak anak tumbuh dengan segala fasilitas, tetapi mudah merasa kurang. Mereka memiliki banyak barang, tetapi sedikit rasa syukur. Sebaliknya, Ali dan Zahra hampir tidak memiliki apa-apa, namun tetap mampu tersenyum, saling menguatkan, dan menjaga harapan.

Inilah paradoks zaman modern.

Semakin banyak yang dimiliki, belum tentu semakin bahagia.

Semakin tinggi teknologi, belum tentu semakin bijaksana.

Semakin canggih kecerdasan buatan, belum tentu semakin manusiawi.

Sebagai pembina Pramuka, saya melihat bahwa nilai-nilai dalam film ini selaras dengan Dasa Darma Pramuka: bertanggung jawab, hemat, disiplin, rela menolong, sederhana, dan dapat dipercaya. Sebagai pendidik, saya melihat film ini menghidupkan kembali nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila: beriman, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, kreatif, dan berkebinekaan global.

Yang menarik, seluruh nilai tersebut hadir tanpa kesan menggurui. Penonton tidak dipaksa menangis. Tidak dipaksa belajar. Mereka diajak merasakan.

Dan ketika hati sudah tersentuh, pendidikan telah berhasil.

Inilah mengapa saya mengapresiasi langkah MUTU SCHOOL (SMP Muhammadiyah 7 Medan) yang menjadikan Children of Heaven sebagai media pembelajaran karakter. Pendidikan tidak boleh dibatasi oleh tembok kelas. Bioskop pun dapat menjadi ruang belajar ketika yang dipelajari adalah nilai-nilai kehidupan.

Guru pada abad ke-21 bukan lagi satu-satunya sumber ilmu. Namun guru tetap menjadi teladan yang membimbing peserta didik menafsirkan pengalaman hidup menjadi hikmah. Di sinilah pentingnya pembelajaran reflektif setelah menonton, agar siswa tidak berhenti pada cerita, tetapi mampu mengubahnya menjadi sikap.

Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun oleh generasi yang mahir menggunakan teknologi. Bangsa ini membutuhkan generasi yang mampu menggunakan teknologi dengan hati nurani. Kita membutuhkan ilmuwan yang jujur, pemimpin yang amanah, pengusaha yang berintegritas, birokrat yang melayani, dan warga negara yang peduli terhadap sesama.

Semua itu bermula dari pendidikan karakter.

Mungkin bangsa ini membutuhkan lebih banyak film seperti Children of Heaven daripada sekadar tontonan yang mengejar sensasi. Sebab sebuah kisah sederhana tentang sepasang sepatu mampu mengajarkan makna kehidupan yang sering kali gagal diajarkan oleh ribuan halaman buku.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan diukur dari berapa banyak siswa yang berhasil menghafal rumus atau memperoleh nilai sempurna, melainkan dari seberapa banyak anak yang tumbuh menjadi manusia yang jujur, rendah hati, bertanggung jawab, serta bermanfaat bagi orang lain.

Karena sesungguhnya, bangsa yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang paling cerdas, tetapi oleh mereka yang tetap memilih menjadi manusia, bahkan ketika dunia terus berubah.

“Mendidik akal adalah sebuah keharusan. Namun mendidik hati adalah sebuah peradaban.”

Bagikan Artikel

Langganan

Popular

Lebih banyak seperti ini
Related

Prof. Sutan Nasomal: All Press Organizations Must Conduct Journalist Professional Certification

Prof. Sutan Nasomal: All Press Organizations Must Conduct Journalist...

Polres Cianjur Gelar Nobar Timnas Indonesia, Pererat Kebersamaan Bersama Masyarakat

iji.red Cianjur – Polres Cianjur menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar)...

Polres Cianjur Gelar Nobar Timnas Indonesia, Pererat Kebersamaan Bersama Masyarakat

Cianjur – Polres Cianjur menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar)...